Header Ads


Sagon, Kue Tradisional yang Laris Manis Menjelang Lebaran

BULUSPESANTREN, kebumenonnews.com - Maraknya produk makanan kemasan pabrikan yang dijual di swalayan tidak serta merta menjadikan jajanan tradisional terlupakan. Karena kekhasannya, jajanan tradisional menjadi istimewa bagi sebagian masyarakat. Salah satu jajanan tradisional khas Kebumen yang masih eksis dan lestari yakni kue sagon.
Proses pembuatan kue Sagon
Jelang hari raya Idul Fitri, kue khas Kebumen ini banyak diburu masyarakat. Selain menjadi hidangan di meja saat lebaran, tak jarang masyarakat menjadikan oleh-oleh saudara atau keluarganya yang kebetulan mudik.

Ramainya minat masyarakat akan kue Sagon berdampak pada para pengusaha sagon yang mengalami kebanjiran pesanan saat Ramadan ini.

Proses pembuatan kue yang terbuat dari campuran tepung beras ketan, parutan kelapa dan gula itu tidak semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan ketrampilan dan keuletan agar hasilnya dapat maksimal. Ketelitian dan kecermatan juga penting agar salah satu makanan khas Kebumen itu tidak gosong.

Mula-mula beras ketan yang telah bersih digiling hingga menjadi tepung beras. Kemudian, tepung beras tersebut disangrai dengan api sedang hingga benar-benar kering. Kemudian tepung tersebut dicampur dengan parutan kelapa dan gula hingga tercampur sempurna. Adonan tersebut kemudian dicetak dalam cetakan khusus dan setelahnya dimasukkan oven.

Sutanti, salah satunya produsen kue sagon warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Buluspesantren ini mengaku pada Ramadan pesanan kue sagon naik hingga 100 persen dibandingkan hari biasanya. Kebanyakan pelanggan Sutanti merupakan pengepul yang memesan dalam jumlah cukup besar.

"Kalau hari biasanya paling banyak 5 kilogram adonan, tetapi sekarang bisa 10 kilogram setiap hari," ungkap warga RT 1 RW 4 Desa Tambakrejo itu.

Saking banyaknya pesanan kue sagon, Sutanti mengaku sampai menolak pesanan yang masuk. Pasalnya, tenaga untuk membuat kue sagon tetap dirasa kurang meskipun ia telah meminta bantuan tetangga untuk menyelesaikan pesanan. Dari usaha yang digelutinya sejak 7 tahun silam, Sutanti yang merupakan single parent dapat mencukupi kebutuhan dan sekolah ketiga anaknya.

"Untuk satu pak kue sagon yang terdiri dari 10 bungkus dijual Rp 140.000," tandasnya.(lukman hakim/adm)
Powered by Blogger.