Header Ads


Mobil Mewah Milik Bupati Kebumen Milik Bupati Kebumen Diduga Dibayar dengan Uang Suap

Bupati Kebumen non aktif Mohammad Yahya Fuad, menaiki Jeep Rubicon pada acara Launching Sport Tourism Offroad Jelajah Kebumen di Pantai Laguna Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, 9 April 2017 lalu.
JAKARTA, Kebumenonnews.com - Bupati Kebumen non aktif Mohammad Yahya Fuad, diduga menggunakan uang suap untuk membayar cicilan mobil mewah miliknya. Yakni Rubicon dan Alphard, serta digunakan untuk pembelian tanah.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah, menjelaskan Mohammad Yahya Fuad diduga tidak hanya menggunakan PT. Tradha untuk menampung dan menyamarkan uang suap. Korporasi itu juga diduga digunakan untuk menyamarkan pembelian mobil mewah.

"Dari fee proyek yang dimasukkan ke PT. Tradha diduga digunakan untuk membayar cicilan dua mobil mewah dan membeli tanah," ujar Febri Diansyah, melalui keterangan tertulisnya, Sabtu 19 Mei 2018.

Menurut Febri, sejak penyidikan dilakukan pada 6 April 2018, 20 orang saksi telah diperiksa. Mereka adalah karyawan swasta, termasuk sejumlah staf PT. Tradha. Kemudian, komisaris, mantan komisaris, dan pemilik saham PT. Tradha.

Selain itu, KPK juga memeriksa notaris, Ketua PKB Kabupaten Kebumen, dan Ketua Gapensi Kabupaten Kebumen.

Sebelumnya, KPK telah menetapkan PT. Tradha sebagai tersangka dalam dugaan tindak pidana pencucian uang.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif memaparkan, temuan ini merupakan hasil pengembangan penyidikan dari kasus Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad dalam dugaan penerimaan suap dan gratifikasi terkait sejumlah proyek yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2016.

KPK menemukan fakta-fakta dugaan Fuad sebagai pengendali PT. Tradha, baik secara langsung maupun tidak Iangsung. Fuad diduga dengan sengaja turut serta dalam pengadaan proyek di Pemerintahan Kabupaten Kebumen.

PT Tradha meminjam identitas 5 perusahaan lain untuk menyembunyikan atau menyamarkan identitas. Menurut Febri, pembicaraan tentang proyek-proyek tersebut diduga telah dilakukan sejak Yahya Fuad disebut sebagai pemenang pilkada versi quick count.

"Pertemuan dilakukan dengan tim sukses dan kemudian peran masing-masing dibagi dalam pengelolaan proyek-proyek di Kebumen," kata Febri.

Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) melakukan perpanjangan masa penahanan terhadap tersangka mantan Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad. Masa perpanjangan penahanan terhadap Fuad berlangsung selama 30 hari ke depan.

"Dilakukan perpanjangan penahanan yang kedua selama 30 hari dimulai tanggal 20 Mei 2018 sampai 18 Juni 2018," terangnya.

Selain Fuad, KPK juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka. Mereka adalah Hojin Anshori dari pihak swasta dan Komisaris PT KAK Khayub Muhammad Lutfi.

Fuad bersama-sama Hojin menerima suap dan gratifikasi senilai Rp 2,3 miliar. Suap tersebut terkait proyek pengadaan barang dan jasa yang anggarannya diperoleh dari APBD Kabupaten Kebumen. Hojin sebelumnya merupakan anggota tim sukses saat Fuad mencalonkan diri sebagai bupati. Hojin diduga bertugas menerima dan mengelola fee yang diterima Fuad. Adapun Khayub diduga sebagai salah satu pemberi suap dan gratifikasi kepada Fuad.(*/IK/adm)
Powered by Blogger.