Header Ads


Minim Sarana dan Prasarana Pendidikan, Sekolah di Pelosok Butuh Bantuan

Kondisi MTs Sultan Agung Buayan. Foto:sorot
BUAYAN, Kebumenonnews.com - Nasib sekolah swasta di beberapa daerah yang ada di Kebumen, khususnya di daerah pelosok cenderung lebih memprihatinkan bila dibandingkan dengan beberapa sekolah di kawasan perkotaan.

Seperti halnya MTs Sultan Agung yang ada di Desa Wonodadi, Kecamatan Buayan. Kondisi fisik bangunan, fasilitas, sarana dan prasarana di sekolah yang terletak di antara perbukitan wilayah Kecamatan Buayan tersebut, tergolong masih cukup memprihatinkan. Bangunan sekolah itu hanya memiliki empat ruang. Tiga di antaranya dipakai untuk kelas belajar mengajar dan satu ruang paling kecil digunakan untuk ruang guru.

"Satu ruangan yang tadinya dipakai sebagai ruang kelas belajar mengajar kini dipakai untuk gudang. Peralihan fungsi ini disebabkan oleh kondisi atap yang telah rapuh, bahkan nyaris ambruk. Bila masih dipakai untuk kelas, dikhawatirkan akan membahayakan siswa ketika proses kegiatan belajar mengajar," terang Kepala MTs Sultan Agung, Sudarman, dihubungi Sabtu (5/5/2018).

Sudarman menceritakan, bangunan sekolah tersebut dulu dibangun dengan dana swadaya. Meski sudah berusia 12 tahun sekolah tersebut berdiri, namun izin operasional sekolah baru resmi diterbitkan pada 2015 lalu.

"Siswa berjumlah 49 anak. Untuk siswa kelas IX berjumlah 10 anak, kemarin saat UNBK terpaksa harus numpang di SMK Ristek Kecamatan Rowokele karena berbagai macam keterbatasan. Sebenarnya kasihan juga anaknya," ucapnya.

Fasilitas pendukung, lanjut Sudarman, seperti ruang baca, buku-buku, peralatan olahraga dan sarana penunjang ekstrakurikuler sekolah masih minim, bahkan untuk MCK sekolah sendiri masih sangat terbatas.

"Gaji guru di sekolah yang mayoritas masih berstatus sebagai GTT sangat minim sekali, yakni berkisar antara Rp 100-150 ribu per bulan. Saya sendiri sebagai kepala sekolah gaji setiap bulannya hanya Rp 200 ribu. Itu saja, gaji saya dan guru-guru yang lain harus berkurang untuk nomboki di sana-sini,” bebernya.

Sudarman berharap ada perhatian khusus dari Pemkab Kebumen terhadap nasib sekolah yang ada di pelosok seperti sekolah tersebut. Terutama perhatian terhadap kondisi fisik sekolah yang kian memprihatinkan.

"Komputer sekolah saja kita hanya punya satu, itu pun sudah sering rusak. Jadi kalau ada guru yang mau mengerjakan tugas sekolah, terkadang harus meminjam laptop milik salah satu guru. Untuk itu kita berharap ada uluran bantuan untuk sekedar meringankan beban sekolah," harapnya.(syarif/sorot)
Powered by Blogger.