Header Ads


Ponpes Hidayatul Mubtadiin Tampung Santri Penderita Gangguan Jiwa Hingga Sembuh

Sejumlah santri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung. Foto:inikebumen
Karangsambung, Kebumenonnews.com - Ternyata bukan hanya Mbah Marsiyo, di Desa Winong, Kecamatan Mirit, yang secara sukarela mengurus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Hal serupa dilakukan oleh Kyai Fahrudin, warga Dukuh Kalikrasak RT 07 RW 03 Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung.

Di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, saat ini menampung 47 santri, yang terdiri dari 37 santri laki-laki dan 10 santri perempuan. Dari jumlah itu terdapat 18 orang masih menderita gangguan jiwa, serta beberapa sisanya sudah sembuh dan dilibatkan mengurus pondok pesantren. Pesantren ini dijadikan tempat untuk merehabilitasi mental orang yang mengalami gangguan jiwa. Tak sedikit pasien yang telah sembuh setelah menjalani terapi. Bahkan, beberapa diantaranya berasal dari pindahan rumah sakit gangguan jiwa yang kondisinya tidak mungkin bisa kembali normal. Pondok pesantren yang berdiri pada tahun 2002 ini telah berhasil mengobati lima ratusan pasien gangguan jiwa yang berasal dari dalam dan luar Kabupaten Kebumen.

Penanganan ODGJ di pondok pesantren ini tidak menggunakan metode dipasung. Seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan sangat sulit untuk bisa berkomunikasi dengan baik. Anehnya, pasien yang mengalami gangguan jiwa, jika sudah berada di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin menjadi nurut dan bisa diajak komunikasi dengan baik layaknya manusia normal. Kyai Fahrudin, mengatakan jika pasien jiwa (dia menyebutnya santri) pertama kali datang dalam kondisi gangguan jiwa berat, akan langsung diisolasi di ruang khusus.

Penderita gangguan jiwa berat akan diisolasi antara 7 hingga 11 hari. "Setelah diisolasi biasanya sudah mulai bisa diajak shalat, terus diajak mengaji," tutur Kyai Fahrudin, Selasa 17 April 2018.
Fahrudin, mengaku tidak menggunakan metode khusus untuk menyembuhkan pasien jiwa. Dia hanya mengajak santrinya untuk shalat jamaah lima waktu yang dilanjutkan wirid. Selain itu, pada penderita gangguan jiwa disini diberikan pengobatan dengan daun-daunan herbal. Seperti daun insulin, waru, serai, remujung hingga jenggel. "Alhamdulillah banyak yang sembuh dan sudah kembali ke masyarakat untuk bekerja," ujar alumnus beberapa pondok pesantren, diantaranya Ponpes Buntet Cirebon, Tebu Ireng Jawa Timur, Ponpes Darussalam Pasuruan.

Untuk kesembuhan pasien, kata dia, tergantung dari tingkat kejiwaannya. Misal, untuk pasien gangguan jiwa yang ringan bisa dalam beberapa hari bisa sembuh, namun bagi yang berat bisa sampai enam bulan. Bahkan ada yang sampai satu tahun. Dalam proses penyembuhan, Kyai Fahrudin, sama sekali tidak memungut biaya kepada keluarga pasien. Dia sendiri yang menanggung seluruh biaya operasional kegiatan pengobatannya. "Allah yang memberi biayanya," ucapnya.

Meski telah lama membantu penyembuhan pasien jiwa, pondok pesantren ini belum tersentuh bantuan pemerintah. Salah satu kendalanya, karena hingga saat ini pondok pesantren ini belum berbadan hukum. "Saya kurang tertarik kalau harus membentuk badan hukum, karena nantinya saya jadi terikat," imbuhnya.(*)
Powered by Blogger.