Header Ads


Pemuda Memilih Merantau, Generasi Perajin Gula Kelapa Kian Terancam

Proses penyadapan nira kelapa. Foto:istimewa
KLIRONG, Kebumenonnews.com - Perajin gula kelapa atau gula merah yang ada di beberapa desa di wilayah Kecamatan Klirong semakin hari semakin langka.

Semakin surutnya para perajin di kawasan tersebut dikarenakan oleh faktor lambatnya regenerasi yang ada. Para generasi muda banyak memilih untuk merantau, mengadu nasib di kota-kota besar maupun di luar negeri. Seperti halnya yang terjadi di Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, sejumlah pemuda yang ada di desa setempat lebih memilih untuk merantau dibanding tinggal dirumah meneruskan produksi gula kelapa yang ditekuni oleh orang tuanya.

Sebaliknya, para perajin yang sudah lanjut usia juga terkadang tidak ingin anaknya bernasib sama sepertinya.
"Mayoritas pemuda di sini pada merantau. Ada yang ke Jakarta, Bandung, Semarang hingga ke luar Jawa, bahkan tak sedikit yang merantau hingga ke luar negeri,” terang Wasimin, salah satu perajin gula kelapa di desa setempat, Jumat (27/04).

Wasimin menuturkan, semakin langkanya perajin gula kelapa di desa setempat dikarenakan oleh tidak adanya regenerasi pasca para perajin menginjak usia lanjut. Wasimin menceritakan, dulu di lingkungan RT tempat tinggalnya, sekira tahun 1990-2000 para perajin gula kelapa tergolong masih cukup banyak.

"Dulu di sini kalau hanya 15 perajin ya ada. Tapi semenjak tahun 2000, apalagi pada beberapa tahun belakangan ini, para perajin sudah semakin langka. Sekarang paling hanya tinggal 3 perajin, itu saja yang aktif produksi setiap hari hanya tinggal 2 perajin. Di sini hampir tidak ada anak muda yang mau menjadi perajin gula kelapa,” terangnya.

Alasan sulit dan lamanya proses produksi gula kelapa menjadi faktor utama para pemuda enggan menjadi perajin gula kelapa. Di sisi lain hasil produksi gula kelapa dipandang kurang menggiurkan dibanding hasil kerja di perantauan.

Adapun proses produksi gula kelapa mulai dari penyadapan nira kelapa atau yang sering disebut nderes oleh warga setempat, kemudian meramu nira kelapa hingga mencetak gula terbilang cukup sulit dan ribet. Terlebih dilakukan jika tidak belajar dari awal, maka akan kesulitan untuk menjadi perajin gula kelapa.

Tidak semua pemuda sekarang bisa memanjat pohon kelapa yang tergolong cukup tinggi. Apalagi memanjat hingga sebanyak 10-20 pohon setiap hari, pagi dan sore. "Proses peracikan nira kelapa, atau yang orang sini sering menyebutnya dengan istilah ngebluk juga tergolong cukup sulit. Karena harus jeli mempertimbangkan besaran api, kondisi nira kelapa dan cara mengaduknya agar menghasilkan gula yang berkualitas,” paparnya.

Wasimin menambahkan, banyak juga dari orang tua yang tidak menginginkan anaknya menjadi perajin gula kelapa karena pekerjaan tersebut dinilai rendah secara ekonomi maupun strata sosial. Selain itu pekerjaan tersebut juga terlalu besar resikonya. "Jika perajin jatuh dari pohon kelapa, kalau tidak meninggal dunia kemungkinan besar akan mengalami cacat, belum lagi kalau pas musim hujan, sengsara lah pokoknya,” tuturnya.(syarif/h4r/sorot)
Powered by Blogger.