Header Ads


Tempat Ibadah Bukan untuk Kampanye

PURBALINGGA- Memasuki tahun politik, berbagai lokasi dijadikan sebagai tempat kampanye. Bahkan ada pihakpihak tertentu yang menggunakan tempat ibadah sebagai lokasi kampanye yang dibungkus dengan kegiatan keagamaan. Tak jarang dalam ceramah keagamaan di tempat ibadah, menjadi ajang untuk menyerang pihak lawan politik dengan informasi yang belum pasti kebenarannya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) GP Ansor pusat, KH Ulil Archam, Minggu (25/3) mengatakan, tempat ibadah seperti masjid bukan sarana kepentingan politik praktis. Hal itu karena masjid sebagai tempat beribadah untuk menyampaikan dam mengajak kebaikan, bukan digunakan sebagai tempat kampanye. ‘’Fungsikan sesuatu sebagaimana mestinya, termasuk tempat ibadah. Dan ceramah di masjid bukan media menyerang orang lain, apa lagi lawan politik,” katanya. Diakui, orang akan lebih mudah berkumpul di masjid karena adanya dorongan masing- masing individu untuk beribadah.

Momentum berkumpulnya itu dijadikan media berkampanye. Namun sayangnya, momentum itu pula yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk tujuan politik praktis, termasuk menyerang pihak lain. Tapi, lanjut Gus Ulil, kalau isi ceramah di masjid untuk mengajak umat berpatisipasi dalam pemilu atau pilkada tentu diperolehkan. Kewajiban masyarakat adalah mendukung program pemerintah.

Pemilu atau pilkada merupakan perangkat negara karena dari situ akan terpilih wakil rakyat dan pemimpin. ”Dimanapun, termasuk di tempat ibadah tidak masalah digunakan untuk mengajak umat menyukseskan kegiatan tersebut. Yang terpenting tidak ada arahan pada personal,” ujarnya. Koordinator Gusdurian Kabupaten Purbalingga, KH Basyir Fadlulloh mengatakan, saat tahun politik, tempat ibadah bisa menjadi lokasi masuknya kepentingan politik praktis.

Hal ini karena pemuka agama dinilai memiliki kemampuan memengaruhi jemaat untuk memilih salah satu calon pemimpin. ”Masjid merupakan tempat ibadah. Jangan sampai dikotori dengan kegiatan bermuatan politik praktis apalagi yang dikemas dalam kegiatan agama. Jamaah juga harus bisa berfikir dengan kepala dingin terhadap ceramah yang disampaikan pemuka agama, apakah bermuatan politis atau tidak,” kata pengasuh Ponpes Minhajut Tholabah, Kembangan, Bukateja, Purbalingga ini.(SM)

No comments

Powered by Blogger.