Header Ads


Ribuan Ikan Mati Di Sungai Kaliputih, Berikut Penjelasan Dinas Perkim LH

Petugas Dinas Perkim LH sedang mengambil contoh ikan yang mati. Foto:dinperkimlh
Kutowinangun - Berawal dari aduan masyarakat di jejaring media sosial facebook, mengenai ribuan ikan yang mati di sungai akibat di obat pada Rabu dinihari (07/03/2018).

Adalah Arif Boement warganet yang berbagi info di Grup Facebook Suara Rakyat Kebumen mengunggah dan dibagi sebanyak 4 kali serta mendapat 84 komentar ini akhirnya di tindaklanjuti oleh Dinas Perumahan Dan Pemukiman Lingkungan Hidup (PerkimLH) Kabupaten Kebumen.

Menanggapi aduan dari masyarakat terkait kasus kematian ikan di perairan sungai Desa Kaliputih Kecamatan Kutowinangun, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Edi Rianto, ST. MT. menurunkan 2 Tim sekaligus.

Tim 1 dipimpin Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Alfia Diana Zulfa, ST. MT. MSc. menangani kasus kematian ikan dan Tim 2 dipimpin Kasi Penaatan dan Pengkajian Dampak Lingkungan, Siti Durohtul Yatima, SP. MM. menangani kasus limbah batubara.

Dari hasil pemantauan langsung dilapangan, kasus kematian ikan masal diduga disebabkan karena adanya aktifitas penangkapan ikan menggunakan bahan terlarang yaitu potassium atau yang sering dikenal masyarakat sebagai racun protas pada Selasa malam(06/03).
Hal ini dibuktikan dari hasil rapid test sampel air yang menunjukkan adanya kandungan sianida dan amoniak.

Selanjutnya Tim melakukan pengambilan sampel air untuk dilakukan pengujian kualitas air di laboratorium lingkungan yang dimiliki Dinas Perkim LH. Dalam pemantauan tersebut ikut mendampingi Tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan dipimpin Drh. Agus Salim.

Bottom ash segera di clean up.
Sementara dari hasil survey Tim 2 dilapangan, ditemukan bahwa lokasi yang dilakukan pengurugan berupa sawah dan sampai saat ini belum ada ijin untuk alih fungsi lahan. Bahan urugan menggunakan limbah batubara (bottom ash) yang masuk kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) yang pengelolaannya harus menggunakan ijin. Limbah batubara tidak boleh digunakan untuk bahan urugan dan apabila sudah terlanjur harus segera dilakukan clean up atau pembersihan kembali.

Kegiatan pemantauan yang dihadiri Kades Gumawang, Kades Banjareja dan Kades Kuwaru serta Babinsa Polsek Kuwarasan juga pemilik lahan dan masyarakat sekitar menyepakati bahwa bahan urugan tersebut benar-benar limbah batubara (bottom ash) yang masuk kategori limbah B3. Oleh karena itu dalam waktu satu bulan kedepan, urugan tersebut sudah harus dilakukan pembersihan kembali (clean up).(h4r/disperkimlh)
Powered by Blogger.